Ternyata, bagi yang sedang berulang tahun, detik pertama setelah pukul 00.00 adalah detik yang paling sakral. Setelah itu, menit pertama menjadi menit yang paling sakral. Lewat dari itu, ucapan selamat yang didapat seringkali mubazir dan tak lagi berasa spesial.
Aku minta maaf karena aku tak bisa selalu jadi orang pertama yang menyelamatimu. Bahkan hari ini. Waktu telah lewat lebih dari satu jam sejak 00.00. Selamat ulang tahun untukmu. Meski aku tahu kini masih hari yang sama, ucapan selamat dariku itu nampaknya akan sia-sia bagimu: tawar dan tak istimewa.
Kamu yang selalu memikirkannya secara mendalam: mungkin pertemuan bagimu adalah masalah angka-angka. Angka untuk menunjukkan tanggal, bulan, tahun dan bahkan waktu.
Menunggu itu membosankan, tapi kamu, kamu yang selalu menantikan pertemuan itu jauh-jauh hari: mungkin pertemuan itu seperti terjadi seumur hidup sekali.
Selalu saja alasanmu adalah kerinduan: kamu benar, bahwa dengan pertemuan, kerinduan itu akan terobati.
Tapi, bukankah semakin lama kamu tak bertemu, semakin rindumu memuncak. Dan tetap saja, kamu tak akan mati karena suatu hal yang bernama: rindu.
Setelah sekian lama berjalan bersama, aku berharap bukan sesal yang kamu dapat. Tetapi sebuah kebanggaan karena menjalaninya berdua denganku.
Seorang wanita duduk sendirian di halte seberang Time Square, Kuala Lumpur. Tapi ia menangis sambil menelpon seseorang. Ia juga sedikit mabuk. Aku memperhatikannya dari dalam mobil yang terparkir di depan halte itu. Sampai ia berlalu dan menghilang. Entah ke mana.
Rasanya aku ingin memecahkan bulan berkeping-keping. Kemudian memanggilmu, dan kita menyusunnya bersama seperti semula.
Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus-menerus menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku? — Cintaku Jauh di Komodo, Seno Gumira Ajidarma
Malam ini, di bawah pesta kembang api, kau seacuh lalu-lalang manusia itu, kekasihku.
Semoga esok ramahmu menyambut, seiring pesta kembang api yang telah usai, dan tahun yang telah berganti.